Posted by: melanilaksmono | June 24, 2009

Tiga Jam di UGD

Waktu sudah menunjukkan pukul 20.30 WIB ketika kami melihat mama memerlukan bantuan khusus. Akhirnya keluarga memutuskan untuk membawa ke rumah sakit, tepatnya ke Unit Gawat Darurat (UGD), karena sudah lewat jam praktek dokter pada umumnya.

Ini, untuk kesekian kalinya aku harus mengantarkan orang tua masuk rumah sakit. Malam itu UGD sedikit lain dari biasanya. Biasanya aku hanya mendapatkan 2-3 pasien di UGD, kali ini penuh, bahkan ruang bertiraipun sudah tidak cukup. Aku langsung teringat dokter Leonardo yang sedang ‘mencari ilmu di UGD’. (Begini ya dok, kalau sedang sibuk.)

Para suster dan dokter jaga sibuk mondar mandir. Isian regristasi terlihat di’antri’ di atas meja. Belum lagi kewajiban mengukur suhu badan dan tekanan darah, membuat hiruk pikuk ruang UGD. Tak ketinggalan keluarga dari pasien yang sedang menunggu tindakan. Seperti biasa, tidak cukup hanya satu orang pengantar mengantar si sakit.

“Wah, bakal lama,” pikirku. Sementara mama sudah merasa kedinginan dan gelisah karena merasa tidak ada dokter yang menolong. Sementara  erangan sakit dan kegelisan terdengar, keluhan; baik dari sipasien maupun pengantar, terdengar dalam pembicaraan mereka.

Tiba giliran dokter memeriksa mama. Dokter bertanya kepada kami dan memberi petunjuk kepada suster untuk memberi tindakan pertama (memberi obat dan infus), kemudian memutuskan untuk melakukan pemeriksaan darah lengkap serta menganjurkan untuk opname. Kamipun menyetujui. Membawa surat pengantar, aku pergi ke ruang registrasi rawat inap. O…o, ternyata disanapun antri.

Aku menunggu giliranku, sambil mendengar percakapan antara keluarga pasien dan petugas registrasi. Ternyata kamar yang isinya lebih dari satu orang untuk pasien pria sudah penuh. Dengan penuh harap bahwa sipasien bisa diterima, sang keluarga bercerita bahwa sudah turun temurun mereka menggunakan jasa rumah sakit itu, bahkan sicalon pasien lahir disitu. Wah, ini yang dinamakan serba salah, orang sakit kok ditolak tapi kamar sudah penuh. Akupun menyadari, ini yang orang katakan, “lari-lari cari rumah sakit”. “Semoga masih ada kamar untuk mama,” pikirku.

Aku segera dilayani. Kuisi formulir, kupilih kamar yang kuinginkan, kuserahkan semua itu kepada petugas. Dan…yah…, ucapan pertama yang kudengar adalah berita bahwa kamar yang diinginkan penuh. Satu level ke bawah dan satu level ke atas penuh juga. Ada 3 level di atasnya, dengan pasrah aku jawab ‘iya’, tapi tolong diantrikan untuk kamar yang kuinginkan. Kamar termurah Rp. 75.000,- dan kamar termahal Rp. 1.125.000,- permalam. Tak terbayang kalau aku harus pindah rumah sakit. Lebih tidak terbayang lagi jika harus berganti dokter. Dokter yang sudah mengetahui sejarah penyakit mama bahkan sudah seperti dokter keluarga. Terkadang aku tinggal menelepon atau sms untuk minta ‘nasihat’ jika ada sesuatu yang perlu dikonsultasikan dengan beliau.

Setelah selesai administrasi, aku kembali ke ruang UGD untuk membayar uang muka (pada malam hari, hanya kasir UGD yang buka). Setelah selesai membayar kuserahkan semua berkas ke suster yang bertugas. Susterpun bertanya, mau pakai dokter siapa? Kusebutkan nama dokter yang biasa merawat mama. Loh, terkejut aku dibuatnya ketika mendengar jawaban si suster, “Tidak bisa bu, karena rujukannya dokter penyakit dalam. Sedang dokter mamanya adalah neurolog.” Kuminta agar dokternya mama jadi dokter utama, biarlah dia yang memilih ‘tim’nya. Setelah ngotot-ngototan terjadi, akhirnya aku mengalah, daripada tidak masuk-masuk kamar, kupilih salah satu dokter penyakit dalam.

Proses selanjutnya, jika hasil laboratorium sudah selesai dokter jaga akan menelepon dokter yang telah dirujuk untuk melakukan tindakan-tindakan yang diperlukan sebelum masuk kamar. Kami kembali dalam penantian.

Kuperhatikan orang-orang di sekitarku, rata-rata mereka sudah membawa ‘gembolan’, alias sudah siap jika si pasien harus rawat inap. Untuk para sepuh yang mempunyai penyakit-penyakit tertentu, pihak keluarga sudah hafal dengan obat yang diberikan atau siap dengan daftar obat jika ditanya oleh dokter. Sedangkan untuk pasien-pasien yang hanya memerlukan bantuan pertama, diberi pertolongan tindakan untuk kemudian diobservasi, jika sudah baikan maka dipersilahkan pulang. Jika tidak ada perbaikan, maka kemungkinan besar akan dirujuk rawat inap.

Sedang asyik melihat-lihat, tiba-tiba pintu UGD terbuka, terlihat seorang wanita muda mengalami kesulitan bernafas. Keluarganya terlihat panik. “Kenapa?” pikirku. Adikku berbisik, “sepertinya kalau tidak asma, alergi.” Berhubung yang masuk bersamaan ada 3 pasien, dokter jagapun melihat-lihat keadaan para pasien sebelum memutuskan siapa yang harus didahulukan.

Wanita muda itu akhirnya mendapat prioritas. Dari pembicaraan yang sepintas terdengar, rupanya wanita itu kena alergi kemudian nimum insidal (obat anti algergi), ternyata tidak manjur. Sampai terjadi kesulitan bernafas seperti itu. Ternyata alergi saja bisa sampai masuk UGD.

Jam sudah menunjukkan pukul 00 lewat sekian menit ketika suster dan petugas UGD masuk ke bilik kami. “Mari, sudah siap untuk ke kamar, dari hasil laboratorium, mamanya tidak perlu tindakan lebih lanjut.” Bersamaan itu juga suster mengatakan bahwa dokter utamanya jadi dokternya mama, bukan dokter penyakit dalam yang kupilih. Terlepas dari apa yang terjadi di belakang layar sehingga keputusan itu berubah, aku merasa lega.

Sebelum petugas mendorong tempat tidur mama, masih kudengar dari bilik sebelah…dokternya lama amat sih… Itulah UGD, buat yang menanti rasanya lama, buat para petugas rasanya sudah bekerja dengan kecepatan tinggi. Yang pasti malam itu aku mendapat ‘ilmu’ lagi, jangan meremehkan alergi.

Advertisements
Posted by: melanilaksmono | May 13, 2008

Trend Mode 2008: Emphasis IPMI

Liat mode show yukkk, kata adikku. Bagus dech, ini trend mode di Indonesia tahun 2008 yang ngadain IPMI (Ikatan Perancang Mode Indonesia) …mumpung dikasih tiket nich. Sekali-kali liat langsung, daripada liat di majalah melulu. Akhirnya aku menyerah, menemani adikku yang lebih gemar mode dibandingkan aku. Sekali-kali ganti suasana pikirku.Kemarin malam 6 Desember 07 di The Hall Senayan City, Jakarta jam 20.00 aku dan adikku melihat hasil karya perancang Indonesia, Emphasis Trend 2008.

Kesan aku pertama kali masuk hal, yach…aku berada di dunia lain. Penampilan orang-orangnya, benar-benar dengan bermacam gaya dan mode baju. Mataku langsung menyapu alias jelalatan melihat sesuatu yang baru untukku (yang lain juga jelalatan kok, mungkin saling ngintip apa yang dipakai orang lain). Dari yang pakaiannya cuma kaos singlet (menurutku) sampai model abis. Ukuran tubuh…mulai dari yang ukuran model (cewe dan cowo) sampai ukuran besar…ada, lengkap. Aku sendiri pakai blus kaos dan celana panjang katun…itulah modeku 😉

Acara yang dimulai terlambat ini, akhirnya dimulai setelah tepuk tepuk tangan yang disengaja oleh para juru foto media dan artis Robby Tumewu serta teman-temannya. Aku juga melihat ibu Pia yang selalu jadi sesepuh dalam acara-acara seperti ini. Aku rasa banyak orang beken lainnya tapi aku kurang mengenal.

Show pertama dimulai oleh rancangan Susie Hedijanto. Rancangannya didasarkan pada etnik Jawa. Aku langsung jatuh cinta pada rancangan ini. Motif batik modern tetapi tetap bercirikan Jawa dan ciri khas warna warni Indonesia, benar-benar menjadi satu. Warna dominan merah, teracota, hijau mendominasi rancangannya.

Penampilan kedua oleh Syahreza Muslim. Pada kesempatan ini dia memadukan nuansa romatis dan elegan. Untukku rancangannya kurang mengena. Tidak terbayang sebenarnya mau dipakai untuk apa? Atau seni apa yang mau ditonjolkan?

Pendatang baru di dunia mode, Priyo menampilkan Eksotik Asia…wow…serasa aku ingin langsung memakai rancangannya. Sederhana dan ciri asianya kental. Jika ingin bersantai tapi modis…rancangan Priyo ini sangat mengena.

Selanjutnya Carmanita yang sudah sangat dikenal kenal kain hasil ‘printing’nya sendiri. Aku langsung teringat batik tulis. Inilah hasil bangsa Indonesia yang lain, kain cetak yang didesain sendiri. Yang mengagumkan adalah permainan motif dan warna…kembali lagi warna warni  ini yang menjadi ciri khas ke Indonesiaan.

Liliana Lim menampilkan Jewel of Asia. Kekagumanku terhadap Liliana adalah menempelkan batu-batuan di kain tanpa memberati dan merobek kain tersebut. Rancangannya sendiri lebih mengarah ke baju pesta yang menonjolkan bebatuan tersebut.

Terakhir Denny Wirawan…salut untuk perancang yang satu ini. Bajunya jelas tidak akan kupakai tapi seni dari hasil karyanya ini yang membuat decak kagum kagum. Aku ingin mejabarkan dengan istilahku sendiri ya…warna campuran coklat dan kopi juga biru laut membuat mata ingin mengikuti kemana pemakai tersebut berjalan. Detil potongon kain yang rapih membuat dipemakai selalu berasa jalan di cut walk. Kain-kain tersebut mebuat gelombangnya sendiri tanpa perlu efek angin atau kipas angin, membuat anggun dipemakainya. Rasanya tepat Denny Wirawan ditaruh pada puncak acara.

Jika aku tiba-tiba jadi modis maka aku akan memilih rancangan Susie Hedijanto untuk baju pestaku dan Priyo untuk keseharian-harianku.

Sukses untuk para perancang mode Indonesia. Teruslah berkarya.

Foto-foto hasil perancang-perancang di akhir acara.

Posted by: melanilaksmono | May 13, 2008

Nasib Keraton-keraton di Indonesia

Kalau ke Jogja, aku harus ke keraton. Ingin tau kebagusan dan kehebatan keraton. Apalagi Sultan-nya masih sangat dihargai oleh masyarakat setempat bahkan orang Indonesia pada umumnya.

Beberapa waktu lalu aku pun ke Jogja. Kembali aku menginjak kaki di Malioboro.  “Jalan kaki dari sini saja, keratonnya sudah dekat,” kata temanku. Kamipun menyusuri jalan yang menuju keraton. Sampai di depan bangunan yang kami pikir keraton, kami bingung…tidak ada petunjuk apa-apa. Setelah bertanya kepada seorang ibu, kami ditunjukkan pintu masuk keraton.

Membayar tanda masuk Rp. 500,- pe rorang  ditambah Rp. 1.000,- untuk kamera, kami masuk ditemani ‘guide’ keraton. Keraton masih sepi, tamunya baru kami berdua. Aku langsung melayangkan mata ke halaman dan gedung keraton. Jauh dari bayanganku. Keraton Jogja kok seperti ini. Mungkin aku salah, belum lihat bagian yang dapat dibanggakan.

Mulailah sang guide menceritakan sejarah kekeratonan, tempat-tempat yang sekarang masih dipakai. Karena mau sekatenan, mereka sedang bersiap-siap. Pendopo yang telah dipugar akan dijadikan inti dari acara sekatenan ini.

Kemudian kami ditunjukkan berbagai pakaian adat untuk acara resmi keraton: baju prajurit, komandan tak ketinggalan baju adat khitanan sampai acara mantenan. Baju-baju ini masih dipakai. Terakhir kami diperlihatkan seperangkat gamelan kuno yang masih terawat.

Ya, kami selesai melihat keraton Jogja. Kesanku, aku terlalu berharap melihat sesuatu yang menakjubkan.

Keraton Jogja adalah keraton kedua yang kukunjungi setelah keraton di Cirebon sewaktu ikut Rally De Blogger bersama wikimu.

Berharap keraton Jogja lebih terawat daripada keraton Cirebon, dugaanku salah. Kemudian aku melihat keraton Solo, sama saja. Mulailah bertanya-tanya dalam hati. Kalau Cirebon sang Sultan memang sudah tidak aktif, lain hal Jogja dan Solo yang Sultannya masih aktif. Aku berharap lebih terawat.

Dengan tiket masuk Rp. 500,- perorang, pasti tidak akan dapat menutupi biaya perawatan keraton. Apakah pemerintah turut peduli terhadap salah satu peninggalan sejarah bangsa Indonesia ini? Atau para Sultan sendiri yang harus mengupayakannya? Tak terbayang, untuk menjalankan suatu ritual yang harus mereka laksanakan saja, pasti memakan biaya yang tidak sedikit. Belum lagi para abdi dalem dan keluarganya yang harus juga dibiayai. Lalu kesultanan ini dapat penghasilan dari mana?

Sambil keluar dari keraton, aku bersungut-sungut. Aduh keraton yang masih tampak sisa kebagusannya ini, kenapa tidak terlihat indah ya. Nilai sejarah, nilai seni bahkan adat istiadatnya terasa tenggelam dimakan modernisasi. Aku melihat para turis mulai berdatangan. Apa yang ada di dalam pikiran mereka ya? Sementara temanku yang melihat aku bersungut-sungut berkata, mertuaku tidak pernah mau diajak ke sini. Bukan tidak suka. Tidak tega melihat meninggalkan yang kurang terawat, tidak tega terhadap pendahulu yang membangunnya. Masih berapa banyak lagi peninggalan bersejarah di Indonesia yang kurang dan belum terawat

Posted by: melanilaksmono | January 24, 2008

Seni Berbelanja, Lika-liku Berburu Barang sampai Tipe Pembelanja

Salah satu kesenanganku adalah ‘Menemani Orang Berbelanja’. Aku sendiri bukan tipe orang yang senang belanja. Definisi ‘belanja’ yang kumaksud adalah berbelanja kebutuhan yang bukan primier (utama).

Setiap kali aku diminta untuk menemani orang berbelanja di pasar, supermarket, mall, outlet sampai pasar bunga dan pasar ikan, akan kujabani! Jadi kalau di antara kalian perlu teman, boleh hubungi aku.  Cuma, tahapku baru sampai pembeli barang, belum membeli jasa.

Ada sebuah alasan, kenapa aku senang sekali menemani teman-temanku belanja. Karena dengan begini aku jadi tahu kesukaan mereka.  Termasuk cara mereka memilih barang sampai acara tawar-menawar atau pertimbangan mereka untuk jadi membeli atau tidak.  Singkatnya, sampai ada kata “putus”.  Diputuskan masuk keranjang belanjaan atau diputuskan ditaruh kembali di tempatnya alias batal dibeli.

Karena punya sederet pengalaman mengantar belanja, akhirnya aku bisa membuat semacam kategori untuk para pembelanja.

Versiku ini, didasarkan pada beberapa parameter yang biasanya unik dan berbeda-beda pada setiap orang, di mana akhirnya menjadi ciri khas yang bersangkutan.    

Uraiannya sebagai berikut:

Berdasarkan barang yang [akan] dibeli. 

Ini yang menjadi pertimbangan mereka pergi berbelanja.  Ada orang yang sudah tahu apa yang mau dibeli. Jadi sewaktu berbelanja tinggal mempertimbangkan kualitas serta harga.   Mereka ini masuk ‘Tipe sudah tahu’.

Misal, orang itu akan membeli bunga mawar.  Ya di tempat tujuan tinggal memilih warna sesuai dengan persediaan yang ada dan harga yang cocok.  Demikian pula sebaliknya, kalau mau bunga warna merah tapi terserah jenisnya apa, ya nanti lihat di sana bunga yang tersedia apa saja. Lalu tinggal pilih.

Yang repot adalah orang yang tidak tahu mau beli apa tapi ingin pergi belanja! Contohnya, seseorang butuh baju kerja tapi tidak tahu ingin warna apa dan modelnya bagaimana.  Jadi bisa dibayangkan alangkah lama waktu belanja yang diperlukan.  Tipe yang demikian aku sebut sebagai ‘Tipe belum tahu’.

Namun, ada lagi tipe yang lebih ‘lucu’ soal kebutuhan membeli barang ini.  Yaitu sebuah tipe yang kusebut sebagai ‘Tipe boros di ongkos dan waktu’.  Yaitu mereka yang senangnya lihat-lihat dulu kemudian dipertimbangkan semua yang sudah dilihat bahkan kalau perlu keputusannya tidak pada saat itu. Yang ini hasilnya, bolak-balik ke tempat tujuan.  Jelas boros di waktu dan ongkos, kan? 

Berdasarkan waktu berbelanja.

Umumnya, saat butuh sebuah barang maka seseorang akan berbelanja.  Istilahnya, mau tidak mau harus ada, soalnya lagi butuh.  Mereka yang membeli barang karena alasan ini aku kategorikan sebagai ‘Tipe yang cenderung untuk melihat kegunaan’, kesenangan ataupun kualitas si barang belanjaan.

Tapi, ada lagi tipe yang berbelanja karena mementingkan gaya, ketenaran bahkan sekadar ikut-ikutan.  Masuk ‘Tipe modis’ atau selalu mengikuti mode alias up-to-date. Bahkan kalau perlu sampai bikin statement, “Saya harus punya tanaman gelombang cinta.” Jadi, orang  itu mempunyai tanaman gelombang cinta bukan karena suka, bukan karena butuh, juga bukan karena pertimbangan investasi tetapi lebih karena, “Tetangga saya punya, kenapa saya tidak punya?” (bisa gengsi, bisa ikut arus) atau ”Hmmm, kalau saya tidak punya sekarang nanti akan banyak dipunyai orang.  Jadi,  saya harus dapat predikat yang duluan punya.  Pokoknya yang paling awal memiliki.”

Tipe ini, berbanding terbalik dengan ‘Tipe diskon’ atau ‘Tipe harga miring’. Cirinya lebih gampang terlihat, tunggu saja sampai ada diskon atau harga promo.  Pendeknya bisa dapat harga terbaik.

Meski demikian, kualitas masih mereka pertimbangkan juga, lho. Tipe ini biasanya jeli.  Dapat menghitung Rupiah yang akan dikeluarkan, juga tahu apa kebutuhan mereka yang akan dibeli.  Biasanya lagi, mereka hapal kapan akan sale!  Dan jangan salah, tipe ini akan tahu ini diskon-diskonan atau benar-benar diskon. 

Nah, setelah panjang lebar membeberkan aneka tipe pembelanja tadi,  mungkin kalian bertanya-tanya:  tipe manakah yang  paling aku sukai sewaktu menemani orang berbelanja?  Pilihanku jatuh pada: Tipe sudah tahu apa yang mau dibeli plus Tipe diskon. Ini nilai ekonomisnya paling tinggi!

Uniknya, kalau ditanya tipe mana yang paling tidak kusukai, jawabnya tidak ada.  Lha wong hobiku senang menemani orang belanja 🙂

Dan buat diri sendiri, kalau mau menggolongkan diri ke tipe belanja yang bagaimana, hari gini … ya sedapat mungkin aku pilih diskon atau bonus. Tapi repotnya, aku ini termasuk susah untuk menentukan barang mana yang akan kubeli. Jadi tipe belanjaku bukanlah yang paling ekonomis.

Soal paling ekonomis ini, aku juga punya contoh.  Beberapa waktu lalu, aku menemani seorang teman berbelanja. Dia sedang butuh rok. Didapatlah rok yang dia kehendaki, dan pastinya harga diskon. Tiba di kasir, dia mengeluarkan voucher lagi.  Ternyata diskon tambahan! Jadi dia dapat double diskon.

Jarang-jarang ada toko yang mau memberlakukan hal itu. Biasanya barang diskon tidak akan dikombinasikan dengan diskon lainnya. Entah kenapa, dengan kejeliannya dia bisa mendapatkan hal menarik ini. Alhasil, bengonglah aku.  Beli kainnya saja belum tentu dapat, apalagi ditambah ongkos jahitnya. Sudah pasti ekonomis bangetlah jatuhnya!  Ini yang salah temanku atau tokonya ya?  Atau toko yang bersangkutan sedang bagi-bagi bonus kepada pelanggan juga? Boleh juga kalau banyak toko yang demikian.  Bonus dibagikan tidak hanya kepada karyawan tetapi kepada pelanggan juga 🙂

Posted by: melanilaksmono | November 5, 2007

License to Wed

Dalam sebuah acara keluarga, sepupuku menanyakan kepada adikku yang akan menikah. Sudah nonton ‘license to wed’, nonton dech…cocok untuk orang yang akan menikah. Buat yang sudah nikahpun, boleh juga…biar ingat-ingat pernikahannya bagaimana. Terlepas dari nikah atau belum nikah filmnya juga lucu.Akhirnya Sabtu  kemarin (3/11) adikku bersama calonnya dan beberapa orang lagi nonton ‘license to wed’ filem yang dibintangi oleh Robin Williams , Mandy Moore, John Kasinski.

Ceritanya ada seorang pastor Frank (Robin W) yang selalu memberi kursus perkawinan kepada calon pengantin untuk membuktikan bahwa mereka memang saling mencintai.

Ben Murphy (John K) & Sadie Jones (Mandy M) yang sudah berpacaran selama 6 bulan memutuskan untuk segera menikah. Setelah menghadap Frank dan diberikan syarat untuk kursus perkarwinan, walaupun Ben berkeberatan, akhirnya ia setuju. Masing-masingpun diberi buku untuk menulis janji pernikahan mereka. Frank tidak akan menggunakan janji yang standar.

Test  pertama adalah interview pribadi. Frank mewawancarai Ben dengan berbagai pertanyaan yang terkadang memojokkan untuk mengetes kenapa Ben suka dengan Sadie. Test pertama ini boleh dikata tidak lolos karena dari jawaban Ben, ketertarikan kepada Sadie lebih banyak fisik.

Setelah beberapa tes, mulailah masuk ke keluarga. Di sini Frank mempersilahkan Ben memberikan pendapat tentang masing-masing orang dari keluarga Sadie. Mulai dari nenek, ayah, ibu dan seterusnya. Demikianlah dari pihak keluarga Sadie harus memberikan pendapat tentang Ben.

Di sini kekacauan mulai terjadi. Hujat menghujat terjadi. Sadie kecewa dengan Ben. Ben kecewa dengan Sadie. Hampir saja mereka melakukan hubungan intim untuk memecahkan persoalan ini, yang menurut Frank tidak boleh. Frank tahu karena ia selalu ‘menyadap’ ruang mereka dengan cepat mengatasi hal ini.

Kekacauan kedua terjadi setelah dengan santainya Sadie menuturkan bagaimana keinginannya melakukan hubungan intim dengan Ben di depan Frank.

Tes terakhir adalah menyenai kepercayaan dan komunikasi antarmereka. Sadie harus mengendarai mobil dengan mata ditutup sedangkan Ben harus memberi petunjuk. Di sinipun terjadi pertikaian.

Ben semakin tidak suka dan ingin menjatuhkan Frank. Setelah dicari-cari akhirnya Ben menemukan titik lemahnya bahwa Frank pernah menikah (padahal pastor tidak boleh menikah). Ternyata penyelidikan Ben yang hanya setengah-setengah itu salah.

Marahlah Sadie dan membatalkan pernikahan tersebut, terlebih-lebih setelah Sadie mengetahui di buku janji pernikahan milik Ben, tidak ada tertera satu katapun, hanya ada sebuah gambar kartun. Akhirnya Sadie dan keluarga pergi berlibur ke tempat yang seharusnya jadi tempat bulan madu Sadie dan Ben di Jamaica.

Ben-pun menelepon Frank, menanyakan apakah dia orang yang pertama yang gagal melewati tes tersebut? Frank menjawab, siapa yang menentukan gagal, saya tidak pernah mengatakan ini berakhir. Seketika itu Ben sadar bahwa kuncinya adalah dirinya sendiri. Diapun menyusul Sadie.

Sedang Sadie curhat kepada keluarganya. Ternyata yang didapat adalah Sadie masih mengutamakan keluarga dan sahabatnya. Padahal sebagai suami tentu Ben ingin juga dijadikan tempat berpijak bagi Sadie.

Ini dia akhir yang romatis. Ben menuliskan janji pernikahannya di atas pasir. Setelah minta nasihat kepada Frank, Sadie-pun sadar bahwa cintanya kepada Ben adalah cinta sesungguhnya. Menikahlah mereka. Film ini diambil dari peristiwa sehari-hari yang dialami oleh pasangan mulai dari perbedaan pendapat, komunikasi, sampai masalah kepercayaan.

Dikemas dalam cerita komedi yang menarik walaupun terkadang telampau ekstrim, film ini tetap dapat menyampaikan pesan kepada pasangan-pasangan. Jalan ceritanya sendiri sudah dapat ditebak. Mulai dari masalah yang ringan sampai akhirnya terjadi puncak konflik dan terakhir kesadaran untuk memecahkan konflik tersebut.

Bolehlah untuk film hiburan yang membawa pesan ringan untuk kita semua.  

Older Posts »

Categories